Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2012

A Hasan (Ahmad Hasan/Hasan bandung)

Ahmad Hasan atau lebih dikenal dengan panggilan Hasan bandung (karena lama tinggal di Bandung), lahir pada 1887 di Singapura. Ayahnya bernama Ahmad, seorang pengarang dan wartawan terkenal di Singapura. Ibunya bernama Hajjah Muznah berasal dari Palekat (Madras) kelahiran Surabaya.
Ahmad Hasan dikenal sebagai ulama pembaharu. Pikiran-pikirannya sangat tajam dan kritis terutama dalam cara memahami nash (teks) Al-Qur’an maupun Hadits yang cenderung literalis. Walaupun dikenal sebagai pemuka dan guru besar Persatuan Islam (PERSIS) pendapat dan sikapnya terhadap takhayul, bid’ah dan churafat (TBC) bisa dikatakan sama persis dengan Muhammadiyah. Oleh karena itu, ada pula sebagian jamaah Muhammadiyah mengutip pendapat dari Ahmad Hasan, karena dianggap jelas dan tidak bertele-tele.

Keahliannya dalam bidang Hadits, Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, Ilmu Kalam dan Mantiq, menjadikannya sebagai rujukan para penanya dan pemerhati kajian Islam dalam bebagai masalah. Koleksi bukunya sanagt banyak yang selalu dibaca, diteliti, bahkan mungkin dihapal olehnya.

Ahmad Hasan juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai prinsip berdiri tegak di atas kaki sendiri yang merupakan hasil pendidikan langsung dari orang tuanya. Artinya tidak pernah mengharapkan bantuan orang lain dan selalu berusaha dengan tangan sendiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini terlihat ketika Ahmad Hasan masih remaja, ia pernah menjadi buruh di toko kain, berdagang permata, minyak wangi, vulkanisir ban mobil, menjadi guru bahasa melayu, bahasa arab, guru agama, menulis opini dan karangan dalam majalah ataupun surat kabar, baik yang ada di Singapura dan Indonesia. Salah satu tulisannya yang dianggap kritis saat itu ialah kritikannya terhadap Tuan Kadli (Hakim Agama) yang memeriksa perkara dengan mengumpulkan tempat duduk pria dan wanita (ikhtilath). Saat itu merupakan tindakan yang dianggap luar biasa mengingat Kadli (Hakim Agama) memiliki kedudukan yang tinggi sehingga tidak ada yang mengkritiknya.

Pada tahun 1909, dalam usia yang masih relatif muda, Ahmad Hasan aktif menjadi asisten “Utusan Melayu”. Ia aktif memberi ceramah. Pidatonya tentang kemunduran umat Islam dianggap terlalu politis sehingga ia dilarang untuk berpidato di muka umum.

Pada tahun 1921, Ahmad Hasan pindah dari Singapura ke Surabaya. Di Surabaya ini awalnya ia berdagang tetapi mengalami kerugian dan kembali ke profesi awalnya sebagai tukang vulkanisir ban mobil. Sambil berwiraswasta, ia menjalin persahabatan dengan beberapa tokoh Syarikat Islam. Di antaranya, H.O.S. Cokroaminoto, A.M. Sangaji, H. Agus Salim dan lain-lain. Sambutan hangat ditujkukan kepada Ahmad Hasan karena kepiawaiannya dalam ilmu Agama dan jiwqa pejuang yang dimilikinya.

Ia juga pernah belajar tenun di Kediri, tetapi tidak memuaskannya, sehingga pada tahun 1925 ia pindah ke Bandung dan mendapat ijazah menenun di Kota Bandung. Di kota inilah ia berkenalan dengan saudagar-saudagar PERSIS, antara lain, Asyari, Tamim, Zamzam dan lain-lain. Dari perkenalan inilah Ahmad Hasan sering diundang untuk ceramah dan memebrikan pelajaran pada pengajian-pengajian jamaah PERSIS. Dengan metode dakwahnya dan kepribadiannya serta pengetahuannya yang luas, jamaah PERSIS tertarik dengan Ahmad Hasan sehingga ia dikukuhkan sebagai guru dan tokoh PERSIS. Hal inilah yang membuat ia membatalkan untuk kembali ke Surabaya.

Di Bandung selain aktif sebagai guru PERSIS, ia memberi kursus/private kepada pelajar-pelajar didikan Barat, bertabligh setiap minggu, menyusun berbagai karangan pada berbagai majalah.

Ahmad Hasan adalah ulama yang sangat produktif dalam menulis, adapun tulisannya adalah sebagai berikut: Tafsir Al-Furqan, Kitab Pengajaran Shalat (buku rujukan bagi jamaah PERSISdalam tata cara shalat), Tarjamah Bulughul Maram disertai catatan dari Ahmad Hasan, dan Kitab Soal-Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama.

Pemikiran Ahmad Hasan sering dianggap dengan suatu yang agresif, ekstrem, dan puritan, karena karakter pemahaman yang literalis. Hal ini sangat jelas dalam masalah yang berkaitan dengan ibadah, khususnya ibadah mahdlah, ia sama sekali menolak hal yang berbau bid’ah. Secara garis besar pokok-pokok pikrannya adalah sebagai berikut:

* Ijtihad harus merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits yang shahih saja. Implikasinya adalah terpinggirkannya fatwa ulama, terutama karena tidak diketahui rujukan nashnya atau bertentangan dengan nash. Kalaupun ada ulama yang dijadikan rujukan itu lebih karena pendapatnya dianggap sesuai dengan nash yang dapat dipertanggungjawabkan.
* Menentang taqlid (mengikuti pendapat tanpa mengetahui alasannya atau dalil) secara mutlak. Tetapi memperkenankan ittiba’, yaitu mengikuti suatu pendapat yang jelas dalilnya dan diakui kebenarannya.
* Memegang lafaz (kata) yang lebih jelas (zhahir) dalam menyimpulkan hukum.  Mirip dengan madzhab Dzahiry yang berpegang teguh pada zhahir nash dan menolak takwil.
* Kritik Hadits pada aspek redaksional (matan) dan periwayatan. Kritik yang dimaksud adalah hadits tidak boleh bertentangan dengan Al-Quran sebagai rujukan utama, tidak boleh bertentangan dengan hadits-hadits mutawatir atau hadits-hadits yang lebih tinggi derajat keshahihannya. Sedangkan kritik pada periwayatan lebih pada kritik metode penukilan hadits dan kritik rawi (Naqd al-Rijal).
* Menolak Ijma’. Menurut penelitaiannya tidak ada satu pun ayat yang memerintahkan menerima ijma’. Ia berpendapat hanya hukum Allah dan Rasul-Nya saja yang bisa dijadikan  sumber hukum, sedangkan hukum buatan manusia, walaupun disepakati oleh semua orang tidak dapat dijadikan salah satu sumber hukum.
Tujuh Belas tahun lamanya ia tinggal di Bandung, menegakkan pemahamannya dan berjuang dengan segala kesungguhan hati hingga kepindahannya ke Bangil pada tahun 1941 bersama percetakannya untuk bekal hidup sebagaimana ia lakukan di Bandung untuk terus menulis buku mencetak dan menerbitkannya sendiri.

Di Bangil, ia mendirikan pesantren PERSIS di samping pesantren putri yang sampai kini dihuni oleh para santri dari berbagai tanah air. Pesantren tersebut dipimpin oleh putra sulungnya Abdul Qadir Hassan. Solidaritas sosial yang sangat tinggi dari sosok ulama ahli debat dan teguh pendirian ini menjadi kharisma tersendiri bagi orang-orang yang mengenalnya. Dia sangat memuliakan tamu dan pintunya selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang mengunjunginya dengan sambutan yang hangat dan akrab dari tuan rumah.

Akhirnya ulama yang hati-hati dalam agama, kritikus ulung dan memiliki semboyan hidup “Tidak ada penghidupan yang lebih baik dari hidup mengikuti tuntunan agama dan berbuat baik kepada siapapun sekadar bisa dan penuh keikhlasan.” (Tamar Jaya, 1957). Ia berpulang ke rahmatullah pada tanggal 10 November 1958. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya. (zar, pkesinteraktif.com)

Disarikan dari Ensklopedi Tokoh Muhammadiyah

Soekarno (Kekaguman pada Wahabi)

Kepada A. Hassan, Soekarno bercerita keinginannya membaca buku “Utusan Wahabi.” Ia juga bercerita telah menerjemahkan buku biografi Ibnu Saud. “Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati,” ujar Bung Karno.
Sepucuk surat nun jauh dari tanah seberang dikirimkan kepada Tuan A. Hassan, guru utama Persatuan Islam (Persis). Sang pengirim bukanlah sembarang orang. Ia tokoh muda bangsa yang kala itu berada dalam pengasingan di Ende, Nusa Tenggara Timur. Soekarno, nama pengirim surat itu, tak lain adalah sosok yang kemudian hari menjadi  founding father dan presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno sosok yang berapi-api, cerdas, dan ambisius.
Dari tanah pengasingan yang sepi, Soekarno berkirim surat kepada Tuan Hassan, begitu A. Hassan biasa disapa pada saat itu.  Bagi Soekarno, A. Hassan adalah sahabat sekaligus guru dalam mempelajari Islam. Ia mengagumi karya-karyanya, termasuk juga mengagumi cara pandangnya terhadap ajaran-ajaran Islam. Kepada Tuan Hassan, Soekarno berkirim kabar dan bercerita panjang lebar mengenai berbagai hal, di antaranya soal taklid, takhayul, kejumudan umat Islam, dan lain sebagainya. Ia juga menceritakan keinginannya untuk mendapatkan bahan-bahan bacaan Islam, terutama karya-karya A. Hassan. Di antara karya A. Hassan yang ingin sekali ia baca adalah buku berjudul, “Utusan Wahabi”.
Sepucuk surat itu ia tulis dengan ketulusan, sebagai berikut:
Endeh, 1 Desember 1934
Assalamu’alaikum,
Jikalau saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini: Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al-Muctar, Debat Talqien. Al-Burhan Complete, Al-Jawahir.
Kemudian, jika saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid” (kalangan sayyid atau habaib, red). Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal “sajid” itu, tetapi toch menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusyrikan itu. Alasaan-alasan kaum “sajid” misalnya, mereka punya “brosur kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu “Aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebathilan!
Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.
Wassalam,
Soekarno
Pada kesempatan lain, Soekarno juga berkirim kabar kepada A. Hassan, memohon agar guru Persatuan Islam (Persis) itu membantu perekonomian keluarganya, dengan membeli karya terjemahannya mengenai Ibnu Saud. Soekarno menceritakan kekagumannya kepada Ibnu Saud setelah menerjemahkan sebuah karya berbahasa Inggris mengenai sosok tersebut.
“Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain cs (Syiah, pen) akan kehilangan akal nanti sama sekali,” tulisnya.
Kepada Tuan Hassan, ia menuliskan sebagai berikut:
Endeh, 12 Juli 1936
Assalamu’alaikum,
Saudara! Saudara punya kartu pos sudah saya terima dengan girang. Syukur kepada Allah SWT punya usul Tuan terima!.
Buat mengganjal saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya sudah sesak sekali buat mempelajari segala saya punya keperluan, maka sekarang saya lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggris yang mentarikhkan Ibnu Saud. Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati. Tebalnya buku Inggris itu, format Tuan punya tulisan “Al-Lisaan”, adalah 300 muka, terjemahan Indonesia akan menjadi 400 muka (halaman, pen). Saya saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya? Tolonglah melonggarkan rumah tangga saya yang disempitkan korting itu.
Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain c.s akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menjalin ini buku, adalah suatu confenssion bagi saya bahwa, walaupun tidak semua mufakat tentang system Saudisme yang juga masih banyak feudal itu, toch menghormati dan kagum kepada pribadinya itu yang “toring above all moslems of his time; an Immense man, tremendous, vital, dominant. A gian thrown up of the chaos and agrory of the desert, to rule, following the example of this great teacher , Mohammad”. Selagi menggoyangkan saya punya pena buat menterjemahkan biografi ini, jiwa saya ikut bergetar karena kagum kepada pribadi orang yang digambarkan. What a man! Mudah-mudahan saya mendapat taufik menjelaskan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku, dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspirasi daripadanya. Sebab, sesungguhnya buku ini penuh dengan inspirasi. Inspirasi bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam hati. Inspirasi bagi kaum muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunah Nabi”, yang mengira, bahwa Sunah Nabi SAW itu hanya makan kurma di bulan puasa dan cela’ mata dan sorban saja !.
Saudara, please tolonglah. Terimakasih lahir-batin, dunia-akherat.
Wassalam,
Soekarno
Kepada A. Hassan, Soekarno juga bercerita mengenai ibu mertuanya yang telah meninggal dan kritik yang dialamatkan kepadanya karena ia dan keluarga tidak mengadakan acara tahlilan untuk almarhumah ibu mertuanya.
Dalam surat tertanggal  14 Desember 1935, Soekarno menulis:
“Kaum kolot di Endeh, di bawah ajaran beberapa orang Hadaramaut, belum tenteram juga membicarakan halnya tidak bikin ‘selamatan tahlil’ buat saya punya ibu mertua yang baru wafat itu, mereka berkata bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu. Biarlah! Mereka tak tahu-menahu, bahwa saya dan saya punya istri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampunan bagi ibu mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan Rahmat-Nya dan Berkat-Nya…”
Begitulah cuplikan surat-surat Soekarno kepada sahabatnya, Tuan A. Hassan. Sahabatnya yang pada masa lalu mendapat stigma “Wahabi” dan dianggap membawa paham baru soal Islam. Unik memang persahabatan Soekarno dan A. Hassan. Karena pada masa selanjutnya, dua orang sahabat ini berbeda pandangan soal hubungan agama dan negara.
Meski sahabat karib, A. Hassan tak segan-segan mengkritik Soekarno yang begitu mengidolakan sekularisasi yang diusung oleh tokoh sekular Turki, Mustafa Kamal Attaturk. Bagi A. Hassan, Islam tak bisa dipisahkan dari urusan negara. Kritik A. Hassan terhadap paham sekular Soekarno bisa dilihat dalam buku “Islam dan Kebangsaan“, sebuah karya fenomenal A. Hassan yang mengkritisi kelompok nasionalis-sekular pada masa itu.
Toh, meski berbeda pandangan, ketika Soekarno di penjara di Bandung, Tuan Hassan dan para anggota Persatuan Islam tetap membesuknya sebagai sahabat. [voa-islam.com] Kamis, 01 Dec 2011
Demikian tulisan Artawijaya yang dimuat situs voaislam.com.
Berikut ini ada catatan nahimunkar.com:
Oleh-oleh Presiden Soekarno untuk A Hassan
Kitab suci (palsu) Tadzkirah yang sering ditenteng M Amin Djamaluddin ketua LPPI, menurut cerita dia, adalah oleh-oleh Soekarno atas pesanan A Hassan. Karena sebelum berangkat untuk berkunjung ke India, Presiden Soekarno menawari A Hassan, mau dibawakan oleh-oleh apa. Maka A Hassan minta dibelikan kitab suci (palsu) Ahmadiyah bernama Tadzkirah Wahyu Muqaddas, yang disebut sebagai kumpulan wahyu untuk nabi (palsu) Mirza Ghulam Ahmad.
Betapa dahsyatnya penghancuran aqidah Islam dalam kitab Tadzkirah itu, tidak dapat dianggap kecil sama sekali. Karena di dalamnya ada “wahyu” yang sangat sesat, jelas-jelas wahyu syetan. Bunyinya:
اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ
Engkau (Mirza Ghulam Ahmad) dari-KU (Allah) dan Aku darimu. (Tadzkirah, halaman 436).
Astaghfirullah… sebegitu sesatnya. Namun anehnya, orang-orang liberal bahkan ada yang julukannya kyai tokoh NU masih pula tidak malu membela Ahmadiyah. Ngawurnya A. Mustofa Bisri dalam Membela Ahmadiyah http://nahimunkar.com/49/ngawurnya-a-mustofa-bisri/)
Sesatnya kitab Tadzkirah itu dan rangkaiannya, dapat dibaca di buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Kyai kok Bergelimang Kemusyrikan, terbitan Saudi Arabia, dan terbitan Surabaya, Pustaka Nahi Munkar. (Pustaka Nahi Munkar Surabaya, 031 70595271, 5911584 atau 08123125427, dan Jakarta Toko Buku Fithrah 021 8655824, 71490693, HP. 081319510114).